Novel ini bercerita tentang perjalanan cinta dua anak manusia
yang berbeda latar belakang dan budaya; yang satu adalah mahasiswa Indonesia
yang sedang studi Universitas Al-Azhar Mesir, dan yang satunya lagi adalah
mahasiswi asal Jerman yang kebetulan juga sedang studi di Mesir. Kisah
percintaan ini berawal ketika mereka secara tak sengaja bertemu dalam sebuah
perdebatan sengit dalam sebuah metro (sejenis trem).
Mein Neim Ist Aisha
Pada waktu itu, si pemuda yang bernama lengkap Fahri bin Abdullah Shiddiq,
sedang dalam perjalanan menuju Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq yang terletak di
Shubra El-Kaima, ujung utara kota Cairo, untuk talaqqi (belajar secara face to
face pada seorang syaikh) pada Syaikh Utsman Abdul Fattah, seorang Syaikh yang
cukup tersohor di seantero Mesir. kepadanya Fahri belajar tentang qiraah Sab’ah
(membaca Al-Qur’an dengan riwayat tujuh imam) dan ushul tafsir (ilmu tafsir
paling pokok). Hal ini sudah biasa dilakukannya setiap dua kali seminggu,
setiap hari Ahad/Minggu dan Rabu. Dia sama sekali tidak pernah melewatkannya
walau suhu udara panas menyengat dan badai debu sekalipun. Karena baginya itu
merupakan suatu kewajiban karena tidak semua orang bisa belajar pada Syaikh
Utsman yang sangat selektif dalam memilih murid dan dia termasuk salah seorang
yang beruntung.
Di dalam metro, Fahri tidak mendapatkan tempat untuk duduk,
mau tidak mau dia harus berdiri sambil menunggu ada kursi yang kosong. Kemudian
ia berkenalan dengan seorang pemuda mesir bernama Ashraf yang juga seorang
Muslim. Merteka bewrcerita tentang banyak hal, termasuk tentang kebencian
Ashraf kepada Amerika. Tak berapa lama kemudian, ada tiga orang bule yang
berkewarganegaraan Amerika (dua perempuan dan satu laki-laki) naik ke dalam
metro. Satu diantara dua perempuan itu adalah seorang nenek yang kelihatannya
sudah sangat lelah. Biasanya orang Mesir akan memberikan tempat duduknya
apabila ada wanita yang tidak mendapatkan tempat duduk, namun kali ini tidak.
Mungkin karena kebencian mereka yang teramat sangat kepada Amerika. Sampai pada
suatu saat, ketika si nenek hendak duduk menggelosor di lantai, ada seorang
perempuan bercadar putih bersih yang sebelumnya dipersilahkan Fahri untuk duduk
di bangku kosong yang sebenarnya bisa didudukinya, memberikan kursinya untuk
nenek tersebut dan meminta maaf atas pwerlakuan orang-orang Mesir lainnya.
Disinilah awal perdebatan itu terjadi. Orang-orang Mesir yang kebetulan
mengerti bahasa Inggris merasa tersinggung dengan ucapan si gadis bercadar.
Mereka mengeluarkan berbagai umpatan dan makian kepada sang gadis, dan ia pun
hanya bisa menangis. Kemudian Fahri berusaha untuk meredakn perdebatan itu
dengan menyuruh mereka membaca shalawat Nabi karena biasannya dengan shalawat
Nabi, orang Mesir akan luluh kemarahannya dan ternyata berhasil. Lalu ia
mencoba menjelaskan pada mereka bahwa yang dilakukan perempuan bercadar itu
benar, dan umpatan-umpatan itu tidak layak untuk dilontarkan. Namun apa yang
terjadi, orang-orang Mesir itu kembali mrah dan meminta Fahri untuk tidak ikut
campur dan jangan sok alim karena juz Amma saja belumtentu ia hafal. Kemudian
emosi mereka mereda ketika Ashraf yang juga ikut memaki perempuan bercadar itu,
mengatakan bahwa Fahri adalah mahasiswa Al-Azhar dan hafal Al-Qur’an dan juga
murid dari Syaikh Utsman yang terkenal itu. Lantas orang-orang Mesir itu
meminta maaf pada fahri. Fahri kemudian menjelaskan bahwasanya mereka tidak
seharusnya bertindak seperti itu karena ajaran Baginda Nabi tidak seperti itu.
Lalu ia pun menjelaskan bagaimana seharusnya bersikap kepada tamu apalagi orang
asing sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Mereka pun mengucapkan
terima kasih pada fahri karena sudah megingatkan mereka. Sementara itu, si bule
perempuan muda, Alicia, sedang mendengarkan penjelasan tentang apa yang terjadi
dari si perempuan bercadar dengan bahasa Inggris yang fasih.Kemudian Alicia
berterima kasih dan menyerahkan kartu namanya pada Fahri. Tak berapa lama
kemudian metro berhenti dan perempuan bercadar itupun bersiap untuk turun.
Sebelum turun ia mengucapkan terima kasih pada Fahri karena sudah menolongnya
tadi. Akhirnya mereka pun berkenalan. Dan ternyata si gadis itu bukanlah orang
Mesir melainkan gadis asal Jerman yang sedang studi di Mesir. Ia bernama Aisha.
Di Mesir, Fahri tinggal bersama dengan keempat orang temannya yang juga berasal
dari Indonesia, yaitu Saiful, Rudi, Hamdi dan Misbah. Fahri sudah tujuh tahun
hidup di Mesir. Mereka tinggal di sebuah apartemen sederhana yang mempunyai dua
lantai, dimana lantai dasar menjadi tempat tinggal Fahri dan empat temannya,
sedangkan yang lantai atas ditempati oleh sebuah keluarga Kristen Koptik yang
sekaligus menjadi tetangga mereka. Keluarga ini terdiri dari Tuan Boutros,
Madame Nahed, dan dua orang anak mereka – Maria dan Yousef. Walau keyakinan dan
aqidah mereka berbeda, namun antara keluarga Fahri (Fahri dkk) dan keluarga
Boutros terjalin hubungan yang sangat baik. Di Mesir, bukanlah suatu keanehan
apabila keluarga Kristen koptik dan keluarga Muslim dapat hidup berdampingan
dengan damai dalam masyarakat. Keluarga ini sangat akrab dengan Fahri terutama
Maria. Maria adalah seorang gadis Mesir yang manis dan baik budi pekertinya.
Kendati demikian, Fahri menyebutnya sebagai gadis koptik yang aneh, karena
walaupun Maria itu seorang non-muslim ia mampu menghafal dua surah yang ada
dalam Al-Quran dengan baik yang belum tentu seorang Muslim mampu melakukannya.
Ia hafal surat Al-Maidah dan surah Maryam. Fahri juga baru mengetahuinya ketika
mereka secara tak sengaja bertemu di metro. Seluruh anggota keluarga Boutros
sangat baik kepada Fahri dkk. Bahkan ketika Fahri jatuh sakit pun keluarga ini
jugalah yang membantu membawa ke rumah sakit dan merawatnya selain keempat
orang teman Fahri. Apalagi Maria, dia sangat memperhatikan kesehatan Fahri.
Keluarga ini juga tidak segan-segan mengajak Fahri dkk untuk makan di restoran
berbintang di tepi sungai Nil,kebanggaan kota Mesir, sebagai balasan atas kado
yang mereka berikan. Pada waktu itu Madame Nahed berulang-tahun dan malam
sebelumnya Fahri dkk memberikan kado untuknya hanya karena ingin menyenangkan
hati beliau karena bagi Fahri menyenangkan hati orang lain adalah wajib
hukumnya. Setelah makan malam, tuan dan nyonya Boutros ingin berdansa sejenak.
Madame Nahed meminta Fahri untuk mengajak Maria berdansa karena Maria tidak
pernah mau di ajak berdansa.
Oleh : Denny Priadi


22.50
Eleven Science Four

0 komentar:
Posting Komentar